Dan selama rentang waktu itu, aku jadi pengamat selangkangan Willy jadinya. Bokepibu Aku tak ingin kehilangan momen yang indah itu sedetikpun. “Baru pulang Tom?” kata Willy menegurku. Batangnya gemuk, segemuk botol coca cola yang sedang dipegangnya. Aku tak tahu. Pandanganku kualihkan ke lemari es. Aku terangsang karena apa? Gila men. Aku langsung ke dapur, ingin ngambil minuman dari lemari es. Tapi dia masih duduk di semester dua. Semester enam fakultas ekonomi di sebuah perguruan tinggi swasta yang beken di Jakarta. Willy tersenyum memandangku. Batang gemuk itu penuh urat-urat. Sama sepertiku, mereka juga doyan hura-hura. Kulihat Mama sedang berbaring telentang di atas meja makan kami. Benar-benar profesional nih cowok, pikirku. Dasar nakal. enggak usah ya.




















