shhh… oghh”,Aku tak peduli lagi umpatannya. Bokep Mungkin iblis sedang menari-nari di otakku. Aku membenamkan wajahku di dadanya dan terlelap bersama.Besoknya kami bangun bersamaan, masih berpelukan. Darah di dadanya yang sudah mengering juga kulap dengan hati-hati.“Kamu puas sekarang… bukan begitu ton?” ejeknya di sela tangisnya.Aku terdiam. Dia juga baru sadar setelah aku mengambil pisau itu. Kali ini aku lebih leluasa menjilati kemaluannya.“Augghhh… tonhh… enakkhh… terusshh…” pintanya.Lalu kembali menyantap batang kemaluanku dengan garang. Dalam hati aku tertawa, “Dasar wanita… munafik.”“Ayo… Nin… ayo…” kataku pelan mengharap cairan itu segera keluar membasahi kemaluan indahnya.




















