Pria yang kemudian saya ketahui Pak Bambang itu segera menyambar lengan saya. Sekali waktu, saya keceplosan. Bokepibu Belum tampak tanda-tanda itunya akan ‘menembak’. Kami masih sering melakukannya. Saya pun kaget dan berusaha mengelak. Beberapa saat kemudian, baru itu sampai pada puncaknya. Apalagi, keluarga saya tidak ada yang berada di Solo. Pak Bambang pun menekan dengan perlahan. Dan tidak jarang pula, kami menghabiskannya pada sebuah villa di Tawangmangu.Soal hubungan kami, terutama yang berkaitan dengan ‘malam-malam di ranjang’ juga tidak ada masalah yang berarti. Saya hanya bisa tersenyum masam sambil bilang terimakasih.Ketika Pak Bambang kemudian menawari minum di kantin, saya pun tidak punya alasan untuk menolaknya. Hampir sepuluh menit Pak Bambang asik dengan goyangannya. Tampak jelas urat-uratnya. Saya hanya diam.“Sekarang saja kita mulai pengobatannya,” ujarnya seraya membawa saya masuk kamarnya.Kamarnya kecil dan pengap.




















