“rine, vagina dan permainan kamu ok banget!” pujiku. “Lho katanya udahan”, kata-kataku membuat Irene tidak mampu berpura-pura lagi. Bokep sssh!” suaranya memohon tapi makin terdengar mendesah lirih.Kedua kakinya masih meronta menendang-nendang tapi kian lemah dan tendangannya bukan karena berontak melainkan menahan rasa geli dan nikmat. udah jangan Ko!” Irene masih berteriak-teriak memintaku berhenti. han yah Ko”, suaranya dibuat setegas mungkin tapi matanya yang sudah sangat sayu itu tidak dapat berbohong kalau dia sudah sangat menikmati permainanku ini. Kuraih badannya yang kelihatan sudah mulai mengendur. “Jawab dong, mau udahan gak?” aku menggodanya lagi sambil tetap menghujamkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya.













