Lalu vaginanya, basah sekali. “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Bokepibu Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. Seakan sengaja memainkan Si Junior. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Aku menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah. Lalu asyik membuka tabloid. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat. Kalau saja, tidak keburu wanita yang menjaga telepon datang, ia sudah melumat Si Junior. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Karena itulah, tidak akan hadir kesempatan ketiga. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun. Di mana? Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Ke bawah lagi:




















