Tepat sebelum masuk ke toilet, aku menghentikan langkah.“Jen, kamu dengar nggak? Bokep ibu Rasanya juga tak mungkin. Ia mengangkatku berdiri, lalu membuka sabukku, melucuti rok dan celana dalamku. Pak Edy juga sudah melepaskan cengkeraman pada kedua pergelangan tanganku, hingga aku bisa mengistirahatkan tanganku yang pegal karena tertarik kencang ke belakang selama beberapa menit.Selagi aku mencoba memulihkan tenaga yang rasanya terkuras habis ini, wali kelas sialan ini memperkenalkan pemerkosaku satu per satu, hal yang harusnya sama sekali tidak penting untuk kudengarkan, tapi toh aku tak bisa berbuat apa apa selain terpaksa mendengarkan pak Edy.“Eliza, kenalkan, ini Dedi, kelas 2G, sebelah kelas kamu”, kata pak Edy sambil menepuk pundak pemerkosa mulutku.Aku melihat Dedi, ia benar benar tidak tampan, bahkan cenderung mengerikan dengan bekas luka di hidungnya.




















