Ray.. “Yah, baik-baik saja. Bokep ibu “Ray..” Entah setan mana yang menyetir otakku saat itu, kuremas buah dadanya yang empuk, mengulum bibirnya dengan penuh nafsu, membuatnya terengah-engah menahan tekanan kepalaku.Nia menurut saat. Aku menjadi bingung, keringatku keluar dari dahi dan sekujur tubuhku. “Ray.. nggak pernah ada apa-apa kan?” Aku tersenyum kepadanya.“Thanks..”
“Your welcome, Ray,” jawab gadis manis itu sebelum menghilang di balik pintu rumahnya. hh..” kuraasakan keringat di permukaan perutku. Hari-hari terasa sangat berat tanpa kehadirannya, bahkan aku pun punya rasa sedih akan kehilangan seseorang (setidaknya itulah yang kupikirkan saat itu). Akh, hahahahahahaha.. “Terus..” tanyaku. Kami akhirnya mengambil tempat di salah satu warung di sebelah toko buku itu.“Ray, gimana aja kabarnya.. Kulihat pandangan matanya yang sayu, melihat anggukan kecilnya.




















